Senin, 06 Mei 2013

MENGINTIP SEKOLAH INKLUSIF di JEPANG

Tepatnya di kota Tokyo berada di komplek perumahan ada satu sekolah yang bernama Mushashino Higashi School (MHS),sekolah ini tidak jauh berbeda dengan sekolah-sekolah yang ada di Jepang baik itu dari segi bangunannya.Sekolah ini mengadakan pendidikan mulai dari TK sampai sekolah khusus seperti SMK di Negara Indonesia.Sekolah ini didirikan sekitar tahun 1964 oleh Dr.Kiyo kitahara dan suaminya Katsuhei Kitahara ini,menyatukan siswa penyandang autis dan siswa regular dalam satu kelas.Memang sejak dahulu sekolah ini mendesain sekolahnya menyatukan siswanya dari anak autis dan anak-anak biasa ( regular).Banyak pelajaran yang dapat kita ambil dari system pendidikan sekolah ini sebelum kita mengembangkannya di Negara Indonesia.
Kalau kita cermati proses belajar mengajarnya sepintas siswa reguler dan siswa autis tidak ada bedanya.Hubungan diantara siswa terjalin dengan baik,beberapa saat kemudian baru kita menyadari bahwa ada beberapa anak di dalam kelas yang merupakan penyandang autis.Biasanya kita akan mengetahui karakteristik yang khas dari anak autis antara lain terpaku pada suatu objek secara serius,kontak mata yang tidak mau menatap lawan bicaranya,berbicara sering di ulang itu-itu saja,mengerak-gerakkan tangan atau bagian tubuh lain secara berlebih-lebihan seperti melompat-lompat di tempat atau senyum sendiri.Bayangkan pada tahun 2010 saja dari seluruh jumlah siswa sebanyak 2.144 siswa sekitar 22 % nya penyandang autis atau dapat kita hitung jumlah penyandang autis yang ada sekitar 476 siswa,terdiri dari 412 siswa laki-laki dan 64 siswa perempuan.
Tak heran sekolah ini di jadikan sekolah studi banding dari sekolah negara lain,banyak para pendidik khususnya yang berkecimpung pada dunia anak berkebutuhan khusus mendatangi sekolah ini.Satu-satunya cabang dari sekolah MHS ini ada di Boston,USA,yaitu Boston Higashi School.
Semuanya guru.
Memang pada awal penerimaannya anak penyandang autis ini tidak langsung di gabungkan dengan anak regular lainnya.Mereka di tampung di kelas khusus sampai dia anggap mampu menerima pelajaran seperti anak regular lainnya.Penilaiannya berdasarkan pada kemampuan anak dalam memegang alat tulis dengan baik dan benar,dapat berkonsentrasi dengan baik dan bisa ke kamar kecil secara mandiri,tidak destruktif,jarang tantrum dan lain sebagainya.
Begitupun untuk penbagian kelas di dasarkan atas pencapaian kemampuan akademik,di mana guru mengajar dalam satu kelas berjumlah 30 orang siswa,empat diantaranya adalah penyandang autis.Di kelas regular anak autis yang mengalami prilaku seperti dreaming,tantrum di berikan tempat duduk paling depan agar guru kelas tersebut mudah untuk menanganinya.Guru-guru yang di anggap mumpuni dari segi keterampilan mengajarnya baik, serta penguasaan materinya baik,biasanya di tempatkan di kelas yang ada siswa penyandang autisnya.Seorang guru juga sangat di harapkan mampu berkomunikasi dengan baik terhadap orang tua murid sebagai mitra kerjanya.
Uniknya semua orang yang berperan sebagai guru di sebut guru (sensei) sebutannya.Seorang sopir antar jemput misalnya bias di sebut sensei (guru)karena selain pekerjaannya mengantar dan menjemput siswa sopir ini juga banyak memebantu pihak sekolah seperti membersihkan lapangan,mencabut rumput liar,menjaga anak-anak ketika berolahraga dan lain sebagainya.Begitu pula pelayan kantin,tugas mereka bukan hanya menyediakan makanan,tapi juga mengajarkan bagaimana cara menghargai makanan dan cara makan yang baik dan sopan.Selian itu juga sopir di beri bekal pelatihan mesin dan listrik sehingga jika mobil yang bersangkutan mengalami masalah,sopir tersebut bisa mengatasinya dengan baik.Sebaliknya jika sopir tersebut berhalangan hadir,tidak segan-segan kepala sekolah turun tangan untuk mengantar jemput siswa-siswanya dengan kendaraan sekolah. sumber : http://pokja-inklusifkalsel.org/berita/detail/60

Tidak ada komentar: