Senin, 30 September 2013

Pendidikan Inklusi : Membangun Empati di Sekolah Inklusi

Membangun Empati di Sekolah Inklusi

Pendidikan inklusi hingga kini masih dianggap asing di kalangan masyarakat. Banyak cerita tentang penolakan terhadap Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) untuk masuk ke sekolah regular karena ketidaksiapan sekolah dan masyarakat atau orang tua siswa lainnya. “Padahal model pendidikan inklusif ini diyakini dapat mengintegrasikan siswa regular serta siswa penyandang disabilitas dalam program yang sama, baik dalam mengikuti pendidikan maupun beradaptasi dengan lingkungannya. Hal ini yang saya dapat saat mengikuti program Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Belajar dan Mengajar di Autism Spectrum Australia (Aspect) dan sekolah inklusi di Adelaide, Australia baru-baru ini” kata Amka Abdul Aziz.
Kenyataannya, kata Amka, pendidikan inklusi masih menjadi momok bagi sekolah, guru, dan juga orang tua siswa, baik orang tua dari siswa disabilitas maupun nondisabilitas. Banyaknya sekolah yang tidak siap dan masih banyaknya penolakan tersebut seakan menambah ketakutan orang tua ABK untuk ‘mengeluarkan’ anaknya ke dunia luar, menjaga anaknya dari kemungkinan tindak diskriminasi yang dapat menambah beban psikologis anak maupun keluarganya. Alhasil pilihan Sekolah Luar Biasa (SLB) masih dirasakan menjadi sebuah solusi yang paling tepat bagi anak-anak ABK. Padahal ketika ABK bersekolah di SLB, mereka akan seperti ‘terkurung’ dalam dunianya. Selamanya hanya berkutat di dalam dunia kekhususannya, berteman dengan sebatas teman-temannya yang juga bernasib sama. “Menyelenggarakan sekolah inklusi adalah sebuah pekerjaan besar bukan sekedar dukungan dari pemerintah atas segala fasilitas yang harus segera dimiliki oleh sekolah, namun juga upaya besar guru sebagai ujung tombak pelaksana pembelajaran. Guru yang akan membawa perubahan itu, karena dia adalah kuncinya. Keterlibatan atau mengikutsertakan adalah dua hal yang harus mendasari seorang guru dalam memberikan pelayanan terbaik kepada siswa” papar sekretaris Dinas Pendidikan Kalsel.
Berangkat dari situlah guru mengenal siswanya untuk menjadi mengerti apa yang dibutuhkan siswa. Bukan sekedar hubungan formal antara guru dan murid, namun mereka dapat menjadi seperti sahabat. Sehingga dapat menumbuhkan keberanian siswa untuk mau berbagi dan berempati sesederhana apapun ide dan wujudnya. Harus dipahami bahwa membaurkan siswa disabilitas pada lingkungan normal bukan semata untuk kepentingan kaum mereka saja. Namun kondisi ini akan melatih siswa nondisabilitas sehingga mereka dapat menghargai perbedaan, meningkatkan toleransi, memahami kebutuhan temannya yang menyandang disabilitas dan melahirkan sikap empati yang tinggi. “Maka dari itu kurikulum sangat fleksibel bagaikan gelang karet sesuai kebutuhan dan kondisi siswa, sehingga pembelajaran harus berpusat pada siswa dan dilaksanakan dengan sistem moving class” jelas Amka.
Amka pun yakin 52 sekolah regular yang ditunjuk menyelenggarakan pendidikan inklusi di Kalsel mampu mendidik anak yang tidak hanya melatih siswa untuk cerdas dalam aspek akademis semata, tetapi juga cerdas secara social dan emosional. “Sebelum masuk sekolah inklusi, siswa ABK akan dimasukkan terlebih dahulu ke Autis Center yang kini sedang kita bangun. Ditempat inilah anak diberikan bimbingan sampai benar-benar siap masuk sekolah regular”
jelas Amka.
sumber :  http://pokja-inklusifkalsel.org/berita/detail/121

Tidak ada komentar: